Sula,tanyamalut.id – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kepulauan Sula, Menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Kabupaten .
Acara yang berlangsung di Kantor Disdik Sula itu dibuka lansung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kepulauan Sula Muhlis Soamole. Rabu (26/8/2026).

Dalam sambutannya, Muhlis mengatakan Festival Tunas Bahasa Ibu bukan sekadar kegiatan perlombaan bagi anak-anak kita.
Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bagian penting dari upaya kita untuk menjaga, melestarikan, dan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa daerah sebagai bagian dari identitas dan jati diri masyarakat Kepulauan Sula.
Menurutnya, Bahasa ibu merupakan warisan yang tidak ternilai. Di dalam bahasa daerah tersimpan sejarah, nilai-nilai budaya, kearifan lokal, tata krama, serta cara pandang masyarakat terhadap kehidupan. Karena itu, ketika sebuah bahasa daerah tetap hidup dan digunakan oleh generasi mudanya, sesungguhnya kita sedang menjaga keberlangsungan kebudayaan daerah itu sendiri.
“Dalam konteks tersebut, saya memberikan apresiasi yang setinggitingginya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu ini. Terutama kepada para guru, orang tua, panitia, serta semua pihak yang terus memberikan Tuang kepada anak – anak kita untuk belajar dan menggunakan bahasa ibu dengan bangga,” ungkap Muhlis.
Muhlis berharap , Pelaksanaan Festival ini sebagai kesempatan untuk belajar, berkarya, dan menunjukkan bahwa bahasa daerah bukan sesuatu yang harus kita tinggalkan di tengah perkembangan zaman.
“Sebaliknya, kita harus mampu membuktikan bahwa bahasa daerah dapat berjalan seiring dengan kemajuan teknologi dan perkembangan zaman. Kita dapat menggunakan bahasa daerah dalam berbagai bentuk kreativitas, seni, sastra, pertunjukan, maupun media digital,” harapanya.
Selaku sekretaris Daerah ia berpesan, kepada para guru dan orang tua agar terus memberikan teladan kepada anak- anak dalam menggunakan bahasa ibu di lingkungan keluarga dan masyarakat. Pelestarian bahasa tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula tentu memiliki komitmen untuk mendukung penguatan pendidikan dan kebudayaan daerah. Kita ingin pembangunan tidak hanya menghasilkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang berkarakter, mengenal akar,” pungkasnya (red).























